Jumat, 15 Maret 2013

PSIKOTERAPI



Menurut pendapat Gunarsa (2004) Psikoterapi lahir pada pertengahan dan akhir abad lalu, jika dilihat secara etimologis, psikoterapi memiliki arti yang sederhana, yaitu ‘psyche’ yang artinya jelas, yaitu ‘mind’ atau sederhananya: jiwa dan ‘therapy’ dari bahasa Yunani yang berarti ‘merawat’ atau ‘mengasuh’, sehingga psikoterapi dalam arti sempitnya adalah perawatan terhadap aspek kejiwaan. Dalam Oxford English Dictionary, perkataan ‘psychotherapy’ tidak tercantum, tetapi ada ‘psychotherapeutic’ yang di artikan sebagai perawatan terhadap sesuatu penyakit dengan mempergunakan teknik psikologis untuk melakukan intervensi psikis. Dengan demikian psikoterapi adalah perawatan yang secara umum mempergunakan intervensi psikis dengan pendekatan psikologis terhadap pasien yang mengalami gangguan psikis atau hambatan kepribadian.



A.    Tujuan Psikoterapi
Tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikodinamik menurut Ivey (dalam Gunarsa, 2004) adalah : membuat sesuatu yang tidak sadar menjadi sesuatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakukan terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama.
Sedangkan tujuan psikoterapi dengan pendekatan psikoanalisis menurut Corey (dalam Gunarsa, 2004) dirumuskan sebagai : membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat melalui pemahaman intelektual.
Selain itu terdapat tujuan psikoterapi dengan pendekatan terpusat yang dikemukakan oleh Corey (dalam Gunarsa, 2004) antara lain : untuk memberikan suasana aman, bebas, agar klien mengeksplorasi diri dengan baik, sehingga ia bisa mengenali hal-hal yang bisa mencegah pertumbuhannya.
Ada pula tujuan psikoterapi dengan pendekatan behavioristik yang dikemukakan oleh Ivey (dalam Gunarsa, 2004) sebagai berikut : untuk menghilangkan kesalahan dalam belajar dan berperilaku untuk mengganti pola-pola perilaku yang lebih bisa menyesuaikan.

B.     Unsur Psikoterapi

Masserman (dalam Mujib, 2002) melaporkan delapan ‘parameter pengaruh’ dasar yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu :
1.      Peran sosial (martabat)
2.      Hubungan psikoterapeutik
Seorang terapis mendengarkan dengan penuh perhatian. Kemudian terapis menyampaikan pemahamannya terhadap klien atau bertindak untuk menghilangkan penderitaan klien pada saat yang tepat.
3.         Psikoterapi sebagai kesempatan untuk belajar kembali
Menurut Korchin kepercayaan terhadap tindakan terapis sangat dibutuhkan agar menghasilkan kondisi-kondisi untuk belajar kembali. Seorang klien member kepercayaan bersama dengan ketidakpuasan dan keinginan untuk berubah.
4.      Motivasi, kepercayaan dan harapan
Kepercayaan merupakan hal yang penting dalam psikoterapi. Klien mengetahui bahwa dirinya dapat mepercayai otoritas terapis. Dan dirinya akan diperlakukan dengan penuh hormat, oleh karena itu klien dapat mengungkapkan pikirannya secara terbuka tanpa adanya penolakan. Sedangkan harapan dan ketakutan dapat sesekali menyelimuti klien ketika hendak melakukan psikoterapi.
5.      Hak
6.      Retrospeksi
7.      Reduksi
8.      Rehabilitasi

C.     Perbedaan Psikoterapi dengan Konseling
Dari beberapa tokoh diatas dapat disimpulkan jika psikoterapi adalah proses interaksi formal antara dua orang yang dilakukan oleh terapis dan pasien yang bertujuan untuk memperbaiki keadaan yang tidak menyenangkan (distress) dari faktor emosi serta ketidakmampuan fungsi kognitif, fungsi afektif, atau fungsi perilaku.
Sedangkan pengertian konseling menurut Luddin (2010) adalah memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menjelaskan cara hidup lebih memuaskan dan cerdas dalam mengahadapi sesuatu. Konseling di desain untuk menolong, memahami dan menjelaskan pandangan diri sendiri terhadap kehidupan, dan untuk membantu mencapai tujuan penentuan diri (self-determination).
Brammer dan Shostrom (dalam Gunarsa, 2007) mengemukakan bahwa konseling dan psikoterapi memiliki perbedaan sebagai berikut :
1.      Konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti : educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan short time.
2.      Sedangkan psikoterpi ditandai oleh : supportive (dalam keadaan krisis), reconstruktive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and longterm.
Perbedaan konseling dan psikoterapi disimpulkan oleh Pallone dan Patterson (dalam Gunarsa, 2007) adalah :
Konseling untuk :
1.      Klien
2.      Gangguan yang kurang serius
3.      Masalah : jabatan, pendidikan, dll
4.      Berhubungan dengan pencegahan
5.      Lingkungan pendidikan dan nonmedis
6.      Berhubungan dengan kesadaran
7.      Metode pendidikan
Psikoterapi untuk
1.      Pasien
2.      Gangguan yang serius
3.      Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
4.      Berhubungan dengan penyembuhan
5.      Lingkungan medis
6.      Berhubungan dengan ketidaksadaran
7.      Metode penyembuhan


D.    Pendekatan psikoterapi terhadap mental ilnes
Ada banyak  metode yang bisa digunakan untuk terapi. Metode itu merupakan hasil pemikiran dan penelitian para pakar psikologi. Dari sekian banyak metode psikoterapi yang ada, bisa dikategorikan dalam lima pendekatan (dalam Luddin, 2010) yaitu:
1.      Psychoanalysis & Psychodynamic
Pendekatan ini fokus pada mengubah masalah perilaku, perasaan dan pikiran dengan cara memahami akar masalah yang biasanya tersembunyi di pikiran bawah sadar. Tujuan dari metode psikoanalisis dan psikodinamik adalah agar klien bisa menyadari apa yang sebelumnya tidak disadarinya. Gangguan psikologis mencerminkan adanya masalah di bawah sadar yang belum terselesaikan.  
2.      Behavior Therapy
Pendekatan terapi perilaku (behavior therapy) berfokus pada hukum pembelajaran. Bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh proses belajar sepanjang hidup. Tokoh yang melahirkan behavior therapy adalah Ivan Pavlov yang menemukan “classical conditioning” atau “associative learning”. Inti dari pendekatan behavior therapy adalah manusia bertindak secara otomatis karena membentuk asosiasi (hubungan sebab-akibat atau aksi-reaksi).
Tokoh lain dalam pendekatan Behavior Therapy adalah E.L. Thorndike yang mengemukakan konsep operant conditioning, yaitu konsep bahwa seseorang melakukan sesuatu karena berharap hadiah dan menghindari hukuman.
3.      Cognitive Therapy
Terapi Kognitif (Cognitive Therapy) punya konsep bahwa perilaku manusia itu dipengaruhi oleh pikirannya. Oleh karena itu, pendekatan Cognitive Therapy lebih fokus pada memodifikasi pola pikiran untuk bisa mengubah perilaku. Pandangan Cognitive Therapy adalah bahwa disfungsi pikiran menyebabkan disfungsi perasaan dan disfungsi perilaku. Tujuan utama dalam pendekatan cognitive adalah mengubah pola pikir dengan cara meningkatkan kesadaran dan berpikir rasional.
4.      Humanistic Therapy
Terapi Humanistik, psikoterapis berperan sebagai fasilitator perubahan , bukan mengarahkan perubahan. Psikoterapis tidak mencoba untuk mempengaruhi klien, melainkan memberi kesempatan klien untuk memunculkan kesadaran dan berubah atas dasar kesadarannya sendiri.
5.      Integrative / Holistic Therapy
Mengalami komplikasi gangguan psikologis yang mana tidak cukup bila ditangani dengan satu metode psikoterapi saja. Oleh karena itu, menggunakan beberapa metode psikoterapi dan beberapa pendekatan sekaligus untuk membantu klien. Hal ini disebut Integrative Therapy atau Holistic Therapy, yaitu suatu psikoterapi gabungan yang bertujuan untuk menyembuhkan mental seseorang secara keseluruhan.

E.     Bentuk utama psikoterapi
Sampai saat ini, sebagaimana dikemukakan Atkinson (dalam Maulany, 1994) terdapat enam teknik atau bentuk utama psikoterapi yang digunakan oleh para psikiater atau psikolog, antara lain:
1.       Teknik Terapi Psikoanalisa
Teknik ini menekankan fungsi pemecahan masalah dari ego yang berlawanan dengan impuls seksual dan agresif dari id. Model ini banyak dikembangkan dalam Psiko-analisis Freud. Menurutnya, paling tidak terdapat lima macam teknik penyembuhan penyakit mental, yaitu dengan mempelajari otobiografi, hipnotis, chatarsis, asosiasi bebas, dan analisa mimpi. Teknik freud ini selanjutnya disempurnakan oleh Jung dengan teknik terapi Psikodinamik.
2.      Teknik Terapi Perilaku
Teknik ini menggunakan prinsip belajar untuk memodifikasi perilaku individu, antara lain desensitisasi, sistematik, flooding, penguatan sistematis, pemodelan, pengulangan perilaku yang pantas dan regulasi diri perilaku.
3.      Teknik Terapi Kognitif Perilaku
Terapis membantu individu mengganti interpretasi yang irasional terhadap suatu peristiwa dengan interpretasi yang lebih realistik.
4.      Teknik Terapi Humanistik
Teknik dengan pendekatan fenomenologi kepribadian yang membantu individu menyadari diri sesunguhnya dan memecahkan masalah mereka dengan intervensi terapis yang minimal (client-centered-therapy). Gangguan psikologis diduga timbul jika proses pertumbuhan potensi dan aktualisasi diri terhalang oleh situasi atau orang lain.
5.      Teknik Terapi Eklektik atau Integratif
Yaitu memilih teknik terapi yang paling tepat untuk klien tertentu. Terapis mengkhususkan diri dalam masalah spesifik, seperti alkoholisme, disfungsi seksual, dan depresi.
6.      Teknik Terapi Kelompok dan Keluarga
Terapi kelompok adalah teknik yang memberikan kesempatan bagi individu untuk menggali sikap dan perilakunya dalam interaksi dengan orang lain yang memiliki masalah serupa. Sedang terapi keluarga adalah bentuk terapi khusus yang membantu pasangan suami-istri, atau hubungan arang tua-anak, untuk mempelajari cara yang lebih efektif, untuk berhubungan satu sama lain dan untuk menangani berbagai masalahnya.

DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, S. D. (2004). KONSELING DAN PSIKOTERAPI. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Gunarsa, Singgih D (2007). Konseling dan psikoterapi. In http://books.google.co.id/books?id =vjvjGDxJi4C&pg=PA85&lpg=PA85&dq=perbedaan+psikoterapi+dengan+konseling&source=bl&ots=nxgmJh_-5n&sig=QALpK3MKUqTTVXsBjd_mAmaEnY&hl= en&sa=X&ei=3wZDUbjzH9HHrQe78IHQDA&redir_esc=y#v=onepage&q=perbedaan%20psikoterapi%20deng (p. 85). Jakarta: BPK Gunung Mulia. Di akses pada : 15 Maret 2013 pukul : 21.07 WIB
Luddin, M.Pd.,Phd, Drs. Abu Bakar;. (2010). Dasar-dasar Konseling. In http://books.google.co.id/books?id=9sAhB9IYfNYC&printsec=frontcover#v=onepage&q&f=false (p. 16). Bandung: Citapustaka Media Perintis. Di akses pada : 15 Maret 2013 pukul : 20.00 WIB
Maulany, dr.R F;. (1997). BUKU SAKU PSIKIATRI. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Mujib, A. (2002). Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: Grafindo Persada.


 


Jumat, 15 Juni 2012

Makna dan Harapan setelah i nonton film di acara perkuliahan softskil

Makna dari nonton film di acara perkuliahan softskil

setelah menonton beberapa film yang telah diputarkan oleh dosen kami, kami sangat mendapatkan makna yang tersirat dan terkandung dalam film tersebut. banyak pelajaran yang dapat di ambil dari menonton film itu, salah satunya adalah tentang sebuah keikhlasan orang tua dalam mendidik dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang, dengan sabar dan penuh perhatian tanpa mengharapkan balas jasa dari anak-anaknya. selain itu juga dapat digambarkan bahwa d dunia ini memang tidak ada yang sempurna, dengan ketidak sempurnaan itu kita dapat mencari suatu kelebihan yang dapat kita banggakan dan dapat bermanfaat untuk orang lain, kuncinya adalah terus berusaha dan jangan menyerah setiap menghadapi kegagalan.


Harapan setelah menonton film di acara perkuliahan softskil

harapan saya setelah menonton film tersebut, saya ingin membuktikan kepada orang lain jika saya mampu dan saya bisa berusaha untuk menjalani kehidupan ini dengan baik. dan mencapai segala tujuan yang saya sudah targetkan. dengan kemampuan dan ketidaksempurnaan saya, saya mampu bangkit dan berusaha untuk setiap tujuan yang ingin saya capai.

Senin, 09 April 2012

Gangguan Kepribadian dan Penjelasan tentang gangguan Kepribadian Narsistik

Gangguan kepribadian atau watak hakikatnya dibedakan dari gangguan-gangguan mental lain karena gangguan-gangguan ini di sebabkan oleh kekurangan pada struktur kepribadian dan bukan pada fungsinya. Cacat struktural itu adalah pola tingkah laku tidak mampu menyesuaikan diri yang berlangsung lama dan cirinya ialah memperlihatkan ganguan tingkah laku itu sendiri dan bukan pengalaman kecemasan.
Ada 3 faktor yang memisahkan orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian.
  1. Orang yang mengalami gangguan kepribadian menggunakan tingkah laku yang sama secara terus-menerus.
  2.  Orang yang mengalami gangguan kepribadian akan memprlihatkan tingkah laku yang lebih ekstrim.
  3. Orang yang mengalami gangguan kepribadian itu menderita masalah-masalah yang berat dan berlangsung lama.

Selanjutnya akan membahas tentang tiga kelompok utama gangguan kepribadian yang terjadi secara umum di dalam masyarakat. Tiga kelompok gangguan kepribadian yaitu :
  • gangguan pola kepribadian
    kelompok ini meliputi type utama kepribadian dimana ketidak kemampuan meyesuaikan diri dalam tingkah laku abnormal. Gangguan pola kepribadian adalah gangguan-gangguan berat yang memberikan sedikit kemampuan kepada indifidu untuk menangani situasi yang menekan. Contoh ganguan pola kepribadian adalah :
    1. gangguan paranoid
    2. gangguan skizoid
    3. gangguan skizopital dan
    4. gangguan kepribian perbatasan
  • gangguan sifat kepribadian
    gangguan sifat kepribadian dianggap sebagai fiksasi pada taraf penyesuaian diri yang lebih dini dengan melebih-lebihkan pola tingkah laku tertentu atau sebagai akibat dari pola regresi dala menghadapi stres. Gangguan sifat kepribadian meliputi :
    1. gangguan kerpibadian pasif-agresif,
    2. gangguan kerpibadian obsesif-kompulsif
    3. gangguan kerpibadian menghindar
    4. gangguan kerpibadian dipenden
    5. gangguan kerpibadian histrionik
    6. gangguan kerpibadian narsistrik
    7. gangguan kerpibadian sadistik
    8. gangguan kerpibadian yang merusak diri sendiri
  • gangguan kepribadian anti sosial
    gangguan kepribadian anti sosial biasanya disebut sebagai orang yang psikopat atau sosiopat, pengertian dari gangguan kepribadian antisosial itu sendiri adalah orang yang tidak memiliki kemantangan emosi, kurang memiliki pertimbangan, dan rasa tanggung jawab, tidak mampu menilai akibat dari tingkah laku.
Untuk pembahasan selanjutnya akan membahas gangguan kepribadian narsistik. Agar lebih memehami tentang penjelasan dan penanganan yang lebih terperinci tentang gangguan kepribadian narsistik.

GANGGUAN KEPRIBADIAN NARSISTIK

Nama gangguan ini berasal dari legenda Yunani Narcisscus, seorang anak muda yang merasa jatuh cinta dengan bayangannya di kolam. Meskipun orang-orang dengan gangguan tersebut mengharapkan orang lain memuji dan memenuhi keinginan mereka. Orang yang mengalami gangguan ini merasa jika dirinya begitu istimewa. Mereka memiliki penghargaan yang berlebih, terhadap kehidupan mereka sendiri, dan orang yang mengalami gangguan ini merasa iri dan kesal terhadap orang yang lebih cantik, lebih sukses, atau lebih cerdas. Orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik mereka sibuk mengarahkan diri untuk meraih tujuan mereka sendiri dan memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan hal yang diinginkannya.

Para teoritikus kognitif-prilaku (Beck dkk.,2004) berpendapat bahwa orang dengan gangguan kepribadian narsistik berpegang pada gagasan ketidakmampuan menyesuaikan diri sendiri, termasuk bahwa mereka adalah orang yang luar biasa yang pantas diperlakukan jauh lebih baik dari manusia biasa. Mereka kurang perhatian atau pengertian terhadap perasaan orang lain karena mereka menganggap diri mereka lebih tinggi dari orang lain.

Terapi yang digunakan dalam penyelesaian dari masalah gangguan kepribadian narsistik adalah menggunakan metode pendekatan psikodinamika. Pendekatan psikodinamika ini dalam menangani orang dengan gangguan kepribadian narsistik didasari oleh perspektif bahwa mereka kurang mengalami penghargaan masa kanak-kanak untuk prilaku positif mereka. Terapi dimaksudkan untuk menyediakan perbaikan pengalaman selama masa perkembangan dengan menggunakan empati untuk mendukung pencarian klien dalam pengenalan dan penghargaan, tetapi diwaktu yang bersamaan berusaha untuk membimbing klien terhadap penghargaan yang lebih realistis.


SUMBER :
Semium OFM , Yustinus. (2006). Kesehatan Mental 2. Yogyakarta : Kanisius
Halgin, Richard P. & Whitbourne, Susan Krauss. (2009). Psikologi Abnormal. Jakarta : Salemba Humanika.

Sabtu, 07 April 2012

Cerpen Belajar dari Ali dan Fatimah

Ini adalah sebuah cerita tentang cinta. Apapun yang dibicarakan tentang cinta. sampai saat ini masih jadi favorit kalangan masyarakat. cinta pada pasangan, cinta pada kedua orang tua, dan masih banyak cinta yang akan timbul.

Cinta adalah hal fitrah yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, namun bagaimanakah membingkai perasaan tersebut agar bukan Cinta yang mengendalikan Diri kita Tetapi Diri kita yang mengendalikan Cinta. Mungkin cukup sulit menemukan teladan dalam hal tersebut disekitar kita saat ini Walaupun bukan tidak ada.. barangkali, kita saja yang tidak mengetahui saking rapatnya dikendalikan.

Tapi, kebanyakan justru yang tampak ke permukaan adalah yang justru seharusnya tidak kita contoh Kekurangan teladan? Mungkin..

Dan inilah fragmen dari Khalifah ke-4, Suami dari Putri kesayangan Rasulullah tentang membingkai perasaan dan Bertanggung jawab akan perasaan tersebut “Bukan janj-janji”

Kisah pertama ini diambil dari buku Jalan Cinta Para Pejuang, Salim A.Fillah
chapter aslinya berjudul “Mencintai sejantan ‘Ali”

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan! ‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.
Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali. Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.. Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali. ”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.
Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..” ”Aku?”, tanyanya tak yakin. ”Ya. Engkau wahai saudaraku!” ”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?” ”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”
’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang. ”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.
”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?” ”Entahlah..” ”Apa maksudmu?” ”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!” ”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka, ”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.
Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”
Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,
dalam suatu riwayat dikisahkan
bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)
Fathimah berkata kepada ‘Ali,
“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”
‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”
Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”
Kisah ini disampaikan disini,
bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an
Kisah ini disampaikan
agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah
bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi
dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu
Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba.


Belajar dari Ali dan Fatimah
oleh Ikha' Rosedhyan pada 09 Oktober 2010 jam 20:04

KEPRIBADIAN

Pengertian kepribadian
  • Kepribadian secara umum
    Personality atau kepribadian berasal dari kata “personal”, yang berarti topeng. Istilah ini diadopsi dari istilah orang Roma dan mendapatkan konotasi yaitu “sebagaimana seseorang nampak dihadapan orang lain”. Topeng disini merujuk pada orang-orang Roma yang sering bermain sandiwara di zaman Romawi.
  • Kepribadian menurut George Kelly
    Sedangkan menurut George Kelly yang memendang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman hidupnya.
  • Kepribadian menurut Gordon W.Allport
    Gordon W.Allport menyatakan bahwa kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikosofik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian yang unik terhadap lingkungannya.
Kesimpulannya adalah kepribadian dapat brubah-ubah seperti topeng, dimana disesuaikan oleh beberapa faktor yang dapat membentuk kepribadiannya itu sendiri. Salah satu faktor yang teah disebutkan adalah faktor lingkungan yang serta merta dapat mempengaruhi kepribadian seseorang.


Pembentukan kepribadian
Pembentukan kepribadian dapat digambarkan dengan sebuah segitiga yang saling berhubungan. Penjelasan tentang segitiga tersebut adalah :

  • Gen/Biologi
    Menurut Atikson, ketika bayi lahir ia membawa potensialitas tertentu. Seperti karakteristik fisik, contohnya adalah warna mata, warna rambut, bentuk tubuh, bentuk hidung serta karakter fisik yang lainya. Semua itu terjadi pada dasarnya ditentukan pada saat konsepsi (pertemuan antara sel telur dan sperma). Intelegensi dan kemampuan tertentu atau bakat dalam beberapa hal juga tergantung pada hereditas/faktor biologi/gen.
  • Pola Asuh
    Pola asuh juga dapat memengaruhi pembentukan kepribadian. Ada beberapa peneliti yang meneliti tentang anak kembar identik yang dipisahkan atau dengan kata lain berbeda secara pola asuh. Kedua anak kembar ini meski secara biologis sama atau hampir sama secara fisik ketika mereka dibesarkan dalam pola asuh yang berbeda, mereka pun memiliki kepribadian yang berbeda pula.
  • Live event/pengalaman hidup
    Faktor lain yang besar pengaruhnya terhadap pembentukan kepribadian adalah pengalaman hidup atau hasil hubungan individu terhadap lingkungannya. Setiap orang bereaksi terhadap tekanan sosial dengan caranya sendiri. Kembali pada penelitian anak kembar identik yang dipisahkan, selain pola asuh yang berbeda anak kembar identik yangdipisahkan juga mengalami pengalaman hidup yang berbeda. Dari sinilah diketahui bahwa pengalaman hidup juga dapat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian.


    Kepribadian itu sendiri dapat dilihat dari 3 komponen yang saling berkaitan. Komponen-komponen tersebut adalah :
    1.    Kognisi (pikiran)
    2.    Afeksi (emosi/perasaan)
    3.    Aksi (perilaku) 

sumber :
Riyanti, B.P.Dwi & Prabowo, Hendro. (1998). PSIKOLOGI UMUM 2. Jakarta : Gunadarma.
materi kuliah Psikologi Klinis yang diberikan oleh Pak Felix Lengkong.